Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Art Banners-Plus
download
banner3
banner4

Pengunjung Th. 2014

Mesin Pengepres Biji Kemiri Sunan



Get the Flash Player to see this player.

time2online Joomla Extensions: Simple Video Flash Player Module

Video Gelar Teknologi



Get the Flash Player to see this player.

time2online Joomla Extensions: Simple Video Flash Player Module
Wijen

Tanaman wijen merupakan tanaman semusim yang tahan kering, dengan umur panen antara 2,5–5,0 bulan. Selama pertumbuhannya membutuhkan curah hujan antara 400–650 mm. Tumbuh baik pada ketinggian 1–1.250 m di atas permukaan laut, menghendaki suhu ting-gi, udara kering. Wijen sudah lama dikenal dan dibudidayakan tersebar di semua daerah di Indonesia, terutama di wilayah kering baik di lahan kering di musim penghujan maupun di lahan sawah sesudah padi di musim kemarau. Budi daya wijen relatif mudah, risiko kegagalan kecil, input rendah, dan dapat ditumpangsarikan dengan palawija tanaman pangan atau tanaman industri, serta tidak diminati oleh mamalia, seperti kera, babi hutan, atau kijang, sehingga sesuai untuk ditanam di kawasan hutan. Pada tahun 1997 Balittas telah melepas dua varietas unggul wijen, yaitu Sumberrejo 1 (Sbr 1) dan Sumberrejo 2 (Sbr 2) berdasarkan SK Mentan No. 723/Kpts/TP.240/7/97 tanggal 21 Juli 1997. Sbr 1 sampai saat ini masih disukai oleh petani, karena mampu ditanam di lahan kering maupun lahan sawah. Pada tahun 2006 Balittas melepas dua varietas unggul baru dengan nama varietas Sumberrejo 3 (Sbr 3) dan Sumberrejo 4 (Sbr 4) berdasarkan SK Mentan No. 113/Kpts/SR.120/2/2007 dan 114/Kpts/SR.120/2/2007. Sbr 4 sangat disukai di lahan sawah sesudah padi pada MK-2 karena umurnya genjah. Selain itu, pengrajin makanan ringan lebih menyukai biji Sbr 4, karena ukurannya lebih kecil, sehingga dalam satu kilogram jumlahnya lebih banyak dan lebih lekat. Pengembangan wijen di Indonesia setiap tahun meningkat. Pada tahun 2006 areal wijen mencapai 4.788 hektar, yang tersebar di Lampung (150 ha), Jawa Tengah (1.426 ha), Yogyakarta (250 ha), Jawa Timur (1.473 ha), Nusa Tenggara Barat (1.217 ha), dan Sulawesi Selatan (272 ha). Varietas unggul Sbr 1 digunakan di hampir seluruh (90%) daerah pengembangan tersebut. Varietas unggul Sbr 3 dan Sbr 4 mulai digunakan pada tahun 2007, terutama di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Produksi wijen di seluruh daerah tersebut mencapai sedikitnya 2.585,4 ton (produktivitas rata-rata 600 kg/ha) atau senilai Rp6.000.000,00–Rp7.000.000,00 per hektar (harga pada akhir tahun 2007 Rp10.000,00–Rp12.000,00 per kg; harga pada bulan Juni 2008 mencapai Rp22.000,00 per kg). Apabila ditanam secara tumpang sari dengan jarak kepyar, maka pendapatan petani adalah Rp10.225.000,00–Rp11.034.000,00 per hektar. Petani wijen di Jawa Timur dapat menghasilkan wijen dengan produktivitas rata-rata 721 kg/ha, se-hingga pendapatan petani wijen monokultur mencapai Rp8.220.000,00–Rp9.864.000,00 per hektar.

title Filter     Tampilkan # 
# Judul Artikel Penulis Kunjungan
1 Sumberrejo 2 (Sbr 2) Administrator 394
2 Sumberrejo 4 (Sbr 4) Administrator 445
3 Sumberrejo 3 (Sbr 3) Administrator 259
4 Sumberrejo 1 (Sbr 1) Administrator 439
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com